RFID Implant

http://www.nowtheendbegins.com/blog/?cat=783

Rev 13:
16 And he causeth all, both small and great, rich and poor, free and bond, to receive a mark in their right hand, or in their foreheads:
17 And that no man might buy or sell, save he that had the mark, or the name of the beast, or the number of his name.

Advertisements

Hinduisme sumber pengajaran reinkarnasi, karma dan banyak tradisi Buddhisme lainnya.

Kodrat bagi reinkarnasi seseorang yang berikutnya dianggap ditentukan oleh efek yang terakumulasi dalam tindakan-tindakan seseorang pada masa kini dan masa lalu, yakni karma. Karma dianggap sebagai hukum kodrat. Berbagai sekte dan kepercayaan Hindu memiliki harapan yang berbeda-beda mengenai akhir pengembaraan roh ini, tetapi semua aliran Hindu percaya bahwa reinkarnasi berkaitan dengan kelakuan masa lalu.

Halaman 10 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

Catatan pelajar.
Perhatikan bahwa macam-macam kepercayaan yang bervariasi tidak mempunyai satu sumber patokan standar.

Serial: https://denny.wordpress.com/tag/belajar-buddha/

Jikalau Siddharta belajar Alkitab (1)

Banyak pendapat umum mengatakan agama Buddha lebih dahulu daripada agama Kristen. Ini hanya setengah kebenaran saja. Karena tiang pancang tonggak utama kekristenan sudah ditancapkan sejak kitab Ayub ditulis sekitar 4000 tahun yang lalu, bahkan sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, Kristus Sang Mesias sudah dinubuatkan akan dilahirkan untuk menebus umat manusia.

Kejadian 3:15. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Jadi, saat Siddharta lahir, Alkitab Pejanjian Lama kemungkinan sudah selesai semua dan sudah dituliskan Ratusan nubuat yang menunjuk kepada kedatangan Mesias, Tuhan Semesta Alam, untuk menjenguk umatNya.

Jika saja Siddharta benar-benar mencari kebenaran dan mengejarnya hingga ke Israel, membaca Alkitab yang Tuhan berikan sebagai petunjuk, maka Siddharta tidak perlu menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan bertapa bertahun-tahun menahan lapar tanpa pengertian apa yang diinginkan.

Pengkotbah 1
1. Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.
2. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
3. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
4. Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.
5. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.

Salomo, manusia paling berhikmat sepanjang masa, sudah mencari dan sudah menuliskan apa yang dicari Siddharta ratusan tahun sebelum dia dilahirkan.

Jika Siddharta mengejar kebenaran seperti mengejar segala harta duniawi, seperti Ratu dari Syeba mengejarnya hingga ke Israel…

1Raja-raja 10
4. Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya,
5. makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.
6. Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu,
7. tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.
8. Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!
9. Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

Jikalau Siddharta membaca perkataan Salomo, Pengkotbah yang paling berhikmat sepanjang masa, tentu dia akan mengerti jelas bahwa segala sesuatu sia-sia tanpa Tuhan!

Serial https://denny.wordpress.com/tag/belajar-buddha/

mempelajari buddhisme (7) : Hilangnya keandalan tekstual dan catatan

Selain itu, sejunlah teks telah membengkak karena banyak berbagai tambahan komentar dan ingatan dari berbagai komunitas. … Informasi tekstual tentang kehidupan Sang Buddha yang masih kita miliki sekarang berasal dari berbagai rujukan dalam teks yang lolos dari bencana masa itu, ditambah dengan komentar dari berbagai ahli pada masa berikutnya, serta dari sumber rujukan di luar komunitas Buddhis.

Meski kata-kata Sang Buddha yang diingat itu dituliskan sekian abad setelah beliau mengucapkannya dan teksnya pun mengandung berbagai masalah, kita tak memiliki alasan untuk mempercayai bahwa materi faktual yang disajikan itu telah diubah-ubah. (Catatan pelajar: logika yang Sangat aneh!) … Maka, tanpa harus melupakan semua bencana yang terjadi, sejumlah teks yang masih ada itu mungkin sekali memang benar-benar mengungkapkan sabda yang diucapkan oleh Sang Buddha. … Masalahnya, kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui manakah yang diungkap dari ingatan dan mana yang telah dikembangkan.

Halaman 7 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

mempelajari buddhisme (6)

Sang Buddha mengilhami pemberontak Mahayana untuk mengangkat Buddha sebagai Tuhan

Satu abad setelah meninggalnya Sang Buddha (kita percaya, sekiranya selama itulah), dewan kedua dibentuk di wilayah Vaisali yang sekarang dikenal sebagai wilayah Basarh di negara bagian Bihar. Dewan ini bertugas mengevaluasi kembali keakuratan penyampaian lisan pada waktu itu dan meredakan pemberontakan dari sejumlah bhikkhu yang menghendaki diperlunaknya aspek tertentu dalam disiplin biara. Upaya peredaman itu gagal dan para pemberontak memisahkan diri dari aliran utama. Para pemberontak menolak sejumlah peraturan disiplin biara dan menafsirkan kembali Sang Buddha sebagai makhluk adikodrati, suatu pernyataan yang dikatakan diilhami secara mistik oleh Sang Buddha sendiri. Perubahan inilah yang akhirnya membentuk aliran Buddha Mahayana.

Halaman 6 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

mempelajari buddhisme (5)

Karena Sang Buddha telah mengajar sekitar 45 tahun tanpa mencatat apapun, maka penulisan ini merupakan tugas yalng berat. Untuk tujuan itu, dibentuklah suatu dewan yang terdiri dari semua komunitas sangha (dewan pertama dari sekian dewan yang terbentuk). Sidang dewan ini berlangsung pada tahun setelah wafatnya Sang Buddha (antara tahun 542 dan 485 SM) selama beberapa bulan. Tujuan sidang tersebut adalah memastikan apa yang dikatakan oleh Sang Buddha dan menyepakati versi yang disatukan. Kesepakatan pun terjadi, meskipun tetap ada selisih pendapat. Dewan ini juga membentuk suatu aturan baru bagi semua kehidupan biara.

Halaman 5 buku Seri Siapa Dia: Buddha.