Farakhan: The Quran teaches persecution is worse than slaughter… then we must rise up and kill those who kill us. Stalk them and kill them and let them feel the pain of death that we are feeling.

“The Quran teaches persecution is worse than slaughter. Then it says, ‘retaliation is prescribed in matters of the slain.’ Retaliation is a prescription from God (beats his breast), to calm the breast of those whose children have been slain.

“So if the federal government will not intercede in our affairs, then we must rise up and kill those who kill us. Stalk them and kill them and let them feel the pain of death that we are feeling.”

http://www.wnd.com/2015/08/farrakhan-blasts-wnd-others-for-reporting-call-to-kill/

Advertisements

whosoever! believeth in him should not perish, but have everlasting life

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia TIDAK akan melihat hidup, melainkan MURKA Allah tetap ada di atasnya." Yoh 3:36

The universality of the offer of mercy is also here. It is a “whosoever” message, and what does “whosoever” mean? A gentleman came one time to my former home city and took an entire week for a series of lectures on John 3:16. During that time, he labored every night to prove that the world that God loved was the world of the elect and that “whosoever” was simply the “whosoever” that God had chosen from the foundation of the world. No wonder it took him a week to try to make out that kind of a thing. Any child can see the difference between a doctrine like that and that which is revealed in this text. Any one of school age knows the meaning of “whosoever.”

You may have heard the story of the old Scotchman who had been…

View original post 467 more words

Menghargai Perbedaan atau Menyatakan Kesalahan?

Ayah: nak, gimana nih… matematika kamu nol lagi nih

Anak: itu gara-garanya bu guru tidak menghargai pendapatku

Ayah: maksudnya gimana?

Anak: kan saya tulis 1+1=3 dan bu guru bilang itu salah

Ayah: bu guru benar nak, yang benar itu 1+1=2

Anak: tuh ayah juga gak mau menghargai pendapatku. kalo saya percaya 1+1=3 gimana

Ayah: nak, kamu salah percaya. iman yang benar itu harus mengerti dan memahami dengan benar, jangan sembarangan percaya buta saja

Anak: tapi itu iman saya, ayah harus menghargai sesama. kan itu yang ayah ajarin sendiri

Ayah: menunjukkan yang benar dan menyatakann yang salah adalah bentuk penghargaan
coba kamu jelaskan bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan 1+1=3

Anak: itu iman saya yah. jangan mempertanyakan iman orang, gak sopan

Ayah: iman yang benar harus dengan pengertian dan pemahaman, menggunakan otak dan akal sehat.
coba pikirkan lagi dan jelaskan bagaimana 1+1=3

Anak: saya gak ngerti yah…

Ayah: kalo sembarangan percaya tanpa mengerti, memahami, apalagi menjelaskan itu namanya iman buta.
sekarang kamu perhatikan ayah jelaskan bagaimana dan mengapa 1+1 harus dan hanya bisa = 2 saja

(…. bagian penjelasan matematika ini dipotong karena akan memakan waktu terlalu lama 🙂 )

Akhirnya…

Anak: jadi ayah mau memaksakan iman ayah kepada saya?

Ayah: ???

Anak: mengapa ayah tidak bisa menghargai sesama? cuman bisa omong doank…

Ayah: ayah ingin kamu beriman dengan benar, mengerti dan memahami dengan benar apa yang kamu imani, mengapa mengimani itu, mengapa tidak mengimani yang lain,
mengapa hanya 1+1=2 saja satu-satunya iman yang benar untuk matematika desimal
mengapa kamu percaya saya ayahmu, mengapa tidak percaya tetangga sebelah ayahmu,
mengapa harus percaya Tuhan, mengapa tidak menjadi atheis,

Anak: saya sudah beriman ‘yah. hargailah sesamamu.

Ayah: kamu tidak bisa menjelaskan imanmu dengan benar, bagaimana dan mengapa kamu beriman seperti itu?

Anak: bapak kok ngotot banget sih…. ini namanya memaksakan kehendak….
saya gak mau bahas ini lagi!

Ayah: baiklah, kita bahas yang lain…
coba kamu jelaskan bagaimana dan mengapa tuhanmu mau kamu sujud kepada yang kotak atau kiblat kepada yang botak itu? padahal Alkitab, satu-satunya Firman Tuhan yang Maha Kuasa jelas dan tegas melarang itu.

(!?!? oops… topiknya apa nih…)

anyway….

jika ingin mengerti dan memahami iman yang benar, dengan benar, menggunakan otak dan akal sehat,
datanglah…

https://www.facebook.com/events/935888279808119/

Yang Penting Percaya, Beriman Sepenuh Hati

Harini, saya dengan penuh iman dan berangkat kerja dengan kepercayaan sepenuh hati bahwa seperti biasanya saya akan sampai kantor seperti biasa. Just another usual days.

Walaupun di tengah perjalanan tiba-tiba motor kehilangan tenaga, saya tetap beriman dan percaya sepenuh hati akan tetap sampai kantor seperti biasa.

Tetapi dalam waktu kurang dari 5 menit, tiba-tiba….

mati!

bukan saya mati. 🙂 saya masih mengetik pesan ini.

mogok, motor tidak bisa dihidupkan lagi. dan seperti dugaan sejak dari pertama motor mulai kehilangan tenaga sudah curiga kalau-kalau bensin segera habis. tapi dengan iman penuh dan kepercayaan teguh tetap yakin bahwa motor bisa sampai tujuan karena baru dua hari lalu mengisi bensin.

tetapi iman dan kepercayaan tidak mengubah kebenaran dan kenyataan. walaupun keadaan biasanya bensin bisa dipakai sekitar 4-5 hari, tetapi fakta yang dilupakan adalah bahwa dua hari ini motor dipakai menjelajah jarak sekitar 3x lipat dari biasanya.

ternyata.. terbukti..

iman tidak mengubah kebenaran.

bahkan ini adalah iman yang sangat bodoh, percaya buta, tanpa memperhitungkan data dan fakta yang ada.

 

bagaimana dengan iman anda??
sudahkah anda menguji iman anda?? apakah masih percaya dengan yang kotak/botak dan bisu yang tidak sanggup menyelamatkan diri?? masih bersandar kepada kotak/botak yang tidak sanggup berbuat apa-apa??

Yesaya 44
9. Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-barang kesayangan mereka itu tidaklah memberi faedah. Penyembah-penyembah patung itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan mendapat malu.

Yeremia 10
14. Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya,

Yesus yang lain

Mother Teresa often spoke of the wafer and testified that her Jesus was the Catholic host. Once there was a fire in one of Mother Teresa’s chapels, and she described how thankful the nuns were when someone ran inside the burning building and rescued “Jesus.”

Bunda Teresa sering bicara tentang hosti dan bersaksi bahwa Yesus-nya adalah hosti Katolik. Pernah terjadi kebakaran di salah satu chapel Bunda Teresa, dan dia menjelaskan bagaimana dia berterima kasih ketika seseorang lari kedalam gedung yang terbakar dan menyelamatkan “Yesus.”

Yesus-nya Bunda Teresa tidak sanggup menyelamatkan diri dari kebakaran gedung! Bagaimana dia bisa menyelamatkan orang dari neraka?

Bagaimana dengan Tuhan-mu? apakah Tuhan-mu juga patung-patung bisu yang perlu digotong? atau kotak/kubus kosong yang sama bisu dan bahkan tidak bisa digotong??

2Korintus 11
3. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.
4. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

Yeremia 10
5. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat.”

The very best, super anti-depresant

“There can be little doubt that the psalmist was in the grip of deep depression. He was flat on his face in the dust. He had come to the end of himself and his own resources. At this point our society would advise us to see a psychiatrist, seek professional help. … The psalmist makes a different suggestion. He says to the Lord, ‘Quicken Thou me.’ He was going to air his problems all right, but he was going to take them to the Lord. He was going to seek a counselor–the counsel of the Word of God.
http://www.wayoflife.org/friday_church_news/16_32.php

“Tidak diragukan lagi bahwa sang pemazmur sedang dalam cengkeraman depresi yang mendalam. Dia tertelungkup di dalam debu. Dia sudah tiba pada jalan buntu dan kehabisan sumber dayanya sendiri. Pada titik ini, masyarakat kita akan mengusulkan dia mengunjungi psikiatris, mencari pertolongan profesional. …Pemazmur membuat usulan yang berbeda. Dia berkata kepada Tuhan, “hidupkanlah aku.” Dia memang akan mengutarakan masalah-masalahnya, tetapi dia akan membawanya kepada Tuhan. Dia akan mencari seorang penasihat – nasihat dari Firman Allah.
http://graphe-ministry.org/articles/2015/08/satu-dosis-kitab-suci-dimakan-dengan-iman/

whosoever! believeth in him should not perish, but have everlasting life

The universality of the offer of mercy is also here. It is a “whosoever” message, and what does “whosoever” mean? A gentleman came one time to my former home city and took an entire week for a series of lectures on John 3:16. During that time, he labored every night to prove that the world that God loved was the world of the elect and that “whosoever” was simply the “whosoever” that God had chosen from the foundation of the world. No wonder it took him a week to try to make out that kind of a thing. Any child can see the difference between a doctrine like that and that which is revealed in this text. Any one of school age knows the meaning of “whosoever.”

You may have heard the story of the old Scotchman who had been brought up with the idea that God had predetermined just so many people to be saved, and all the rest were created to be damned. He felt that he ought to be willing to say, “O God, if it is Thy will to damn me, I do not want to be saved”; but he did want to be saved and was in the deepest agony of soul about it. But still they all said, “If you are not one of the elect, you cannot be saved.”

One day he was out in the field plowing, when he found a piece of paper with a large text on it. He tried to spell it out, but he was not very good at reading, and so he read slowly: “For—God—so—loved—the—world—that—he—gave—his—only—be-got-ten—Son—that—who-so-ever.” He wondered what that meant, but as he did not know, he passed on to the next part. “That—who-so-ever—be-liev-eth—in—him—should—not—perish—but—have—ever-last-ing—life.”

“Man !” he said, “here’s good news for somebody. God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that who-so-ever! I wonder who is meant by that word. Here is somebody who can have everlasting life, elect or not elect.” And while he was pondering the question, he saw a lad going by with a bunch of books under his arm. He called to him, “Here, laddie, can ye read ?”

“Aye, that I can,” he replied.

“Well, will you read this ?”

Wanting to impress the old man with his great ability, the boy read like a race horse; “For God so loved the world that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.”

“O laddie, laddie, don’t read it so fast; read it again, and read it slowly so I can get every word, and be careful with that long word,” said the old man. And so the boy read it again.

“Does it really say there that somebody can be saved by just believing?” the old man asked. “What does that long word mean?”

“Oh,” said the boy, “whosoever means you, or me, or any other body; but there goes the bell, I have to run,” and away he went.

The old man stood there, and read it again, “For God loved the world, that he gave his only begotten Son, that you, or me, or any other body believeth in him, should not perish, but have everlasting life.”

“Man !” he said, “that’s good news for a sinner like me; I don’t need to find out whether I am elect or not,” and he dropped down between the plow handles, and there confessed himself a sinner for whom Jesus died. He took God at His word, and his soul was saved.

— Harry Ironside
http://www.lighthousetrailsresearch.com/blog/?p=17780