Para Ulama “yang kebingungan” pun Membantah bahwa Injil adalah Kitab Yang Bohong dan Menyesatkan

Percaya kepada kitab-kitab suci sebelum Al-Quran sebenarnya adalah satu dari sekian hal yang wajib diimani komunitas Muslim. Sebagian ulama hanya membatasi iman pada dua kitab suci seperti Taurat dan Injil (alkitab), tapi sebagian lain memasukkan kitab suci di luar Taurat dan Injil.

Perbedaan pandangan ini misalnya dirangkum secara sangat baik oleh Mun’im Sirry dalam bukunya, Polemik Kitab Suci (Gramedia, 2013). Dalam buku itu, ia memberi sejumlah contoh.
Mufasir modern asal Suriah, Jamal al-Din al-Qasimi, misalnya, berpendapat bahwa yang diselewengkan adalah penafsiran atas Taurat dan Injil, sementara teksnya masih bisa diyakini kebenarannya. Untuk mengukuhkan pandangannya itu, al-Qasimi mengutip sejumlah mufasir klasik terkemuka, seperti Ibn Katsir dan Ibn Jarir al-Thabari.
Al-Qasimi menunjukkan bahwa Ibn Katsir menggunakan ‘yuharrifunahu’ dalam arti ‘mereka menafsirkannya (kalam ilahi) berbeda dengan makna yang sebenarnya’, sementara Tabari menyebutkan bahwa ‘yuharrifunahu’ berarti mereka menukar makna dan penafsirannya, dan mengubahnya.
Al-Qasimi juga menyandarkan pandangannya kepada sarjana Muslim abad pertengahan, Ibn Taimiyah. Sebelum memulai pendapatnya, Ibn Taimiyah –ulama yang fatwa-fatwanya selalu menjadi rujukan kelompok konservatif bahkan radikal—mendedah sikap ulama yang secara umum terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan: sebagian berpandangan tak ada lagi teks dalam alkitab yang bisa dipertanggungjawabkan keasliannya, dan sebagian lain berpandangan sebaliknya. Mereka yang berpandangan sebaliknya itu merujuk Al-Quran, “Katakanlah: Bawalah Taurat, lalu bacalah jika kamu orang-orang yang benar” (Al Imron: 93).

Meski menyangsikan keotentikan alkitab, tapi bukan berarti Rida tidak mengakui validitas ajaran Yahudi. Menurut Rida, subtansi ajaran Yahudi tetap harus diakui dan tidak menyimpang, selama petunjuk dari ajarannya terus terpelihara. Untuk menguatkan pendapatnya itu, Rida mengutip Al-Quran yang berbunyi, “…. Mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah….” (al-Maidah: 43).
Validitas ajaran Kristen juga tetap diakui Rida. “Mereka memiliki keuntungan dari mengetahui wahyu orang Yahudi (Taurat) dan perintah dari Nabi-Nabi lainnya serta ajaran Yesus yang mereka miliki. Lebih jauh lagi, semangat dakwah juga ada di antara mereka,” tulis Rida.

Begitu kebingungannya para ulama “menyangsikan” tetapi sekaligus “mengakui validitas” pengajaran Yahudi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s