Jikalau Siddharta belajar Alkitab (2)

Jikalau Sidharta membaca alkitab, dia tidak perlu meninggalkan anak isterinya untuk melarikan diri dari samsara, untuk mencari kebahagian diri sendiri.

Jikalau saja Sidharta belajar alkitab, dia akan mengerti memahami bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta baik adanya, tetapi manusia sengaja melanggar perintah Tuhan dengan berdosa menolak untuk mentaati Tuhan Semesta Alam yang sudah menciptakan mereka, sehingga merusak dunia ini, membawa kesengsaraan dan maut atas diri mereka sendiri.

Kejadian 2
16. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
17. tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 

Jikalau Sidharta belajar alkitab, dia akan sadar dan mengerti suatu saat nanti, Mesias Sang Juruselamat akan datang untuk menanggung sengsara dunia ini atas diriNya sendiri dan memberikan karunia hidup yang kekal kepada semua orang yang mau menerima Dia.

Yesaya 53
1. Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
2. Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
3. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
4. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
5. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Roma 6:23. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jikalau Sidharta membaca alkitab, dia tidak akan meninggalkan anak isterinya untuk melarikan diri dari samsara, untuk mencari kebahagian diri sendiri.

Serial https://denny.wordpress.com/tag/belajar-buddha/

Buddha vs Christ: On Suffering

In his quest to eliminate suffering, he (Siddharta Gautama) actually walked out and left his wife alone in the throes of her pain. Contrast this with the God of the Bible, who came into this world Himself in the person of His Son to suffer on the cross, to embrace pain and suffering for the sake of humanity. Buddha walked away from his son and from pain. In Christianity, God is part and parcel of the solution.
http://www.acts17.net/2015/05/ravi-zacharias-on-buddhism-christianity.html

Dalam usaha “menghilangkan” penderitaan, Siddharta (Buddha) Gautama pergi meninggalkan istrinya sendirian menanggung kesakitan. Bertolak belakang dengan Allah di Alkiab, yang datang sendir kedalam dunia dalam pribadi Anak untuk menderita disalib, untuk menanggung sakit dan penderitaan demi umat manusia.

Buddha pergi melarikan diri dari anaknya dan dari sakit.

Yesus Kristus Tuhan menjadi bagian dan paket dari solusi.

 

Hundreds of years before He came, Isaiah 53:
1 Who hath believed our report? and to whom is the arm of the LORD revealed?
2 For he shall grow up before him as a tender plant, and as a root out of a dry ground: he hath no form nor comeliness; and when we shall see him, there is no beauty that we should desire him.
3 He is despised and rejected of men; a man of sorrows, and acquainted with grief: and we hid as it were our faces from him; he was despised, and we esteemed him not.
4 Surely he hath borne our griefs, and carried our sorrows: yet we did esteem him stricken, smitten of God, and afflicted.
5 But he was wounded for our transgressions, he was bruised for our iniquities: the chastisement of our peace was upon him; and with his stripes we are healed.
6 All we like sheep have gone astray; we have turned every one to his own way; and the LORD hath laid on him the iniquity of us all.
7 He was oppressed, and he was afflicted, yet he opened not his mouth: he is brought as a lamb to the slaughter, and as a sheep before her shearers is dumb, so he openeth not his mouth.
8 He was taken from prison and from judgment: and who shall declare his generation? for he was cut off out of the land of the living: for the transgression of my people was he stricken.
9 And he made his grave with the wicked, and with the rich in his death; because he had done no violence, neither was any deceit in his mouth.
10 Yet it pleased the LORD to bruise him; he hath put him to grief: when thou shalt make his soul an offering for sin, he shall see his seed, he shall prolong his days, and the pleasure of the LORD shall prosper in his hand.
11 He shall see of the travail of his soul, and shall be satisfied: by his knowledge shall my righteous servant justify many; for he shall bear their iniquities.
12 Therefore will I divide him a portion with the great, and he shall divide the spoil with the strong; because he hath poured out his soul unto death: and he was numbered with the transgressors; and he bare the sin of many, and made intercession for the transgressors.

Ratusan Tahun sebelum kedatanganNya, Yesaya 53:
1. Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
2. Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
3. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
4. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
5. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
6. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
7. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
8. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.
9. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
10. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.
11. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
12. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

 

mempelajari buddhisme (6)

Jadi, awalnya Sidharta hanya dianggap sebagai guru saja dan tidak pernah klaim ataupun menuntut penyembahan.
Tetapi pemberontak Mahayana-lah yang mengangkat posisi Sidharta sehingga seperti saat ini, disembah sebagai dewa.

Bedanya dengan Kekristenan,
Tuhan Yesus sudah dinubuatkan kelahiranNya ratusan kali, oleh puluhan nabi, dicatat dalam puluhan kitab sebagai Tuhan yang datang dengan misi dikorbankan untuk keselamatan umatNya.
Dan Yesus datang dengan Klaim menggenapi ratusan nubuat nabi tersebut dan menuntut penyembahan yang sama dengan Tuhan dan Dia disalibkan untuk menebus SEMUA DOSAMU!

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia TIDAK akan melihat hidup, melainkan MURKA Allah tetap ada di atasnya." Yoh 3:36

Sang Buddha mengilhami pemberontak Mahayana untuk mengangkat Buddha sebagai Tuhan

Satu abad setelah meninggalnya Sang Buddha (kita percaya, sekiranya selama itulah), dewan kedua dibentuk di wilayah Vaisali yang sekarang dikenal sebagai wilayah Basarh di negara bagian Bihar. Dewan ini bertugas mengevaluasi kembali keakuratan penyampaian lisan pada waktu itu dan meredakan pemberontakan dari sejumlah bhikkhu yang menghendaki diperlunaknya aspek tertentu dalam disiplin biara. Upaya peredaman itu gagal dan para pemberontak memisahkan diri dari aliran utama. Para pemberontak menolak sejumlah peraturan disiplin biara dan menafsirkan kembali Sang Buddha sebagai makhluk adikodrati, suatu pernyataan yang dikatakan diilhami secara mistik oleh Sang Buddha sendiri. Perubahan inilah yang akhirnya membentuk aliran Buddha Mahayana.

Halaman 6 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

View original post

Hinduisme sumber pengajaran reinkarnasi, karma dan banyak tradisi Buddhisme lainnya.

Kodrat bagi reinkarnasi seseorang yang berikutnya dianggap ditentukan oleh efek yang terakumulasi dalam tindakan-tindakan seseorang pada masa kini dan masa lalu, yakni karma. Karma dianggap sebagai hukum kodrat. Berbagai sekte dan kepercayaan Hindu memiliki harapan yang berbeda-beda mengenai akhir pengembaraan roh ini, tetapi semua aliran Hindu percaya bahwa reinkarnasi berkaitan dengan kelakuan masa lalu.

Halaman 10 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

Catatan pelajar.
Perhatikan bahwa macam-macam kepercayaan yang bervariasi tidak mempunyai satu sumber patokan standar.

Serial: https://denny.wordpress.com/tag/belajar-buddha/

Jikalau Siddharta belajar Alkitab (1)

Banyak pendapat umum mengatakan agama Buddha lebih dahulu daripada agama Kristen. Ini hanya setengah kebenaran saja. Karena tiang pancang tonggak utama kekristenan sudah ditancapkan sejak kitab Ayub ditulis sekitar 4000 tahun yang lalu, bahkan sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, Kristus Sang Mesias sudah dinubuatkan akan dilahirkan untuk menebus umat manusia.

Kejadian 3:15. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Jadi, saat Siddharta lahir, Alkitab Pejanjian Lama kemungkinan sudah selesai semua dan sudah dituliskan Ratusan nubuat yang menunjuk kepada kedatangan Mesias, Tuhan Semesta Alam, untuk menjenguk umatNya.

Jika saja Siddharta benar-benar mencari kebenaran dan mengejarnya hingga ke Israel, membaca Alkitab yang Tuhan berikan sebagai petunjuk, maka Siddharta tidak perlu menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan bertapa bertahun-tahun menahan lapar tanpa pengertian apa yang diinginkan.

Pengkotbah 1
1. Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.
2. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
3. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
4. Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.
5. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.

Salomo, manusia paling berhikmat sepanjang masa, sudah mencari dan sudah menuliskan apa yang dicari Siddharta ratusan tahun sebelum dia dilahirkan.

Jika Siddharta mengejar kebenaran seperti mengejar segala harta duniawi, seperti Ratu dari Syeba mengejarnya hingga ke Israel…

1Raja-raja 10
4. Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya,
5. makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.
6. Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu,
7. tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.
8. Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!
9. Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

Jikalau Siddharta membaca perkataan Salomo, Pengkotbah yang paling berhikmat sepanjang masa, tentu dia akan mengerti jelas bahwa segala sesuatu sia-sia tanpa Tuhan!

Serial https://denny.wordpress.com/tag/belajar-buddha/

mempelajari buddhisme (7) : Hilangnya keandalan tekstual dan catatan

Selain itu, sejunlah teks telah membengkak karena banyak berbagai tambahan komentar dan ingatan dari berbagai komunitas. … Informasi tekstual tentang kehidupan Sang Buddha yang masih kita miliki sekarang berasal dari berbagai rujukan dalam teks yang lolos dari bencana masa itu, ditambah dengan komentar dari berbagai ahli pada masa berikutnya, serta dari sumber rujukan di luar komunitas Buddhis.

Meski kata-kata Sang Buddha yang diingat itu dituliskan sekian abad setelah beliau mengucapkannya dan teksnya pun mengandung berbagai masalah, kita tak memiliki alasan untuk mempercayai bahwa materi faktual yang disajikan itu telah diubah-ubah. (Catatan pelajar: logika yang Sangat aneh!) … Maka, tanpa harus melupakan semua bencana yang terjadi, sejumlah teks yang masih ada itu mungkin sekali memang benar-benar mengungkapkan sabda yang diucapkan oleh Sang Buddha. … Masalahnya, kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui manakah yang diungkap dari ingatan dan mana yang telah dikembangkan.

Halaman 7 buku Seri Siapa Dia: Buddha.

mempelajari buddhisme (6)

Sang Buddha mengilhami pemberontak Mahayana untuk mengangkat Buddha sebagai Tuhan

Satu abad setelah meninggalnya Sang Buddha (kita percaya, sekiranya selama itulah), dewan kedua dibentuk di wilayah Vaisali yang sekarang dikenal sebagai wilayah Basarh di negara bagian Bihar. Dewan ini bertugas mengevaluasi kembali keakuratan penyampaian lisan pada waktu itu dan meredakan pemberontakan dari sejumlah bhikkhu yang menghendaki diperlunaknya aspek tertentu dalam disiplin biara. Upaya peredaman itu gagal dan para pemberontak memisahkan diri dari aliran utama. Para pemberontak menolak sejumlah peraturan disiplin biara dan menafsirkan kembali Sang Buddha sebagai makhluk adikodrati, suatu pernyataan yang dikatakan diilhami secara mistik oleh Sang Buddha sendiri. Perubahan inilah yang akhirnya membentuk aliran Buddha Mahayana.

Halaman 6 buku Seri Siapa Dia: Buddha.